Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan
lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang
sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang
“masih hidup” di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau
bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena
memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang
lain dalam kehidupannya.
Tidak ada mahluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya
diciptakan Allah berbeda-beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya
berbeda. Begitu halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di
dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk khas. Karena
perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul
sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun
tingkah laku. Allah mencipatakan kita dengan segala perbedaannya
sebagai wujud keagungan dan kekuasaan-Nya.
Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk
bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah
itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan
tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu
yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal
yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat membedakan kita dengan
orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS.
Al_Hujurat [49]:13)
Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket
ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling
mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi . tak ada yang dapat membedakan
kecuali ketakwaannya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuh kembangkan agar
pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga
mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga kunci utama untuk mewujudkannya
yaitu ta’aruf, tafahum, dan ta’awun. Inilah tiga kunci utama yang harus
kita lakukan dalam pergaulan.
Ta’aruf. Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal
orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka
akan saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah
ukhuwah islamiyah akan dapat terwujud?
Begitulah, ternyata ta’aruf
atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan
melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan ta’aruf
kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan
semua ciri khas pada diri seseorang.
Tafahum. Memahami, merupakan langkah kedua yang
harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita
mengenal seseorang pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang
ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami
kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaul
kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat.
Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita.
Masih ingat ,”Bergaul dengan orang shalih ibarat bergaul dengan penjual
minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama
dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul dengan
tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita
bersamanya.”
Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama
dengan orang-orang shalih akan banyak sedikit membawa kita menuju
kepada kesalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul
dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan
perilaku ( akhlakul majmumah ).
Ta’awun. Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada
yang kurang jika belum tumbuh sikap ta’awun (saling menolong). Karena
inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri
seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya
untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullulloh SAW telah
mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan
urusan umat Islam yang lain.
Ta’aruf, tafahum , dan ta’awun telah
menjadi bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak
akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus
menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal, memahami,
dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena
Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan
Allah dan seluruh makhluknya. Wallahu a’lam bishshawab